Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts
Melanjutkan cerita beberapa bulan yang lalu ketika saya berkunjung kembali kepulau lombok, saya sempatkan untuk mengunjungi berbagai tempat pariwisata yang populer di Pulau Lombok, diataranya yaitu Pantai Mawun. Pantai Mawun letaknya di sebelah barat Pantai Kuta dan sebelah timur Pantai Selong Belanak. Akses menuju pantai Mawun sangatlah mudah, tinggal melihat GPS pada handphone anda maka kalian akan mudah menemukannya.. :p
Jika kesulitan kalian dapat bertanya pada penduduk sekitar, warga disekitar pantai sangat ramah-tamah kepada pengunjung, jadi jangan sesekali kalian malu bertanya karena pantai di sepanjang lombok tengah sangatlah banyak. Dari Mataram kota perjalanan kami tempuh sekitar jam 09.00 WITA dan setibanya di pantai mawun di siang hari, beruntunglah kami waktu itu cuaca sangat cerah, berbeda dengan hari hari sebelumnya yang terkadang mendung dan sesekali hujan pun turun.
Pantai Mawun masih sunyi dan sepi :)
Bule yang siap untuk berenang di pantai mawun :p
Sesampai di pantai ini suasana pun sangat berbeda, sangat sedikit bule bule yang berkunjung, mungkin karena ombaknya yang sangat tenang sehingga bule yang suka berselancar kurang menyukai pantai ini. Beberapa bule juga terlihat sedang berjemur dan berteduh di bawah pohon yang sangat besar dan rindang sambil membaca buku.
Keindahan yang dimiliki pantai ini adalah airnya yang berwarna biru berpadu dengan warna hijau pada bagian tepi, penyatuan dua warna inilah yang membuat pemandangan di pantai ini semakin memukau. Hamparan pasir pantai yang berwarna putih yang sudah menjadi ciri khas pantai-pantai di Pulau Lombok juga bisa kalian temui disini.
Ciri khas pantai ini, air yang berwarna biru dan hijau
Pantai Mawun yang tenang karena berada di teluk
Lombok memang destinasi yang lengkap dari bawah laut, pantai, bukit sampai pegunungannya. Hari pertama saya tiba di lombok saya langsung menuju bukit malimbu. Bukit Malimbu merupakan salah satu spot terfavorit di Pulau Lombok untuk menyaksikan sunset. Bukit Malimbu sendiri ada dua, yaitu bukit malimbu 1 dan bukit malimbu 2. Jarak dari kota mataram sekitar kurang lebih 45 menit, diperjalanan kalian akan merasakan sensasi yang berbeda, keluar dari hiruk piruk keramaian kota mataram kalian akan menjalani jalan yang berliku-liku dengan pemandangan pantai di sebelah kanan, sepanjang perjalanan itu pula terdapat penginapan atau hotel dengan ciri khas pulau lombok.
Gili trawangan, gili meno dan gili air sudah kelihatan dari Bukit Malimbu II
Jika kalian mau menuju ke gili trawangan dari mataram, ada dua alternatif yaitu melewati pusuk dengan view hutan dan jalanan yang berliku, atau melewati bukit malimbu dengan suasana pantai di sepanjang jalan dengan nyiur melambainya. Menikmati pemandangan dibukit malimbu sangatlah sempurna jika langit dalam keadaan cerah. Jika cuaca sangat cerah kalian juga tak hanya melihat gili trawangan, gili air dan gili meno yang terkenal itu tetapi kalian juga akan disuguhi pemandangan Gunung Agung di Bali dari kejauhan.
Jalanan berliku di Bukit Malimbu II
Manikmati Gili Trawangan dari Bukit Malimbu II
Saya sampai dibukit Malimbu II sekitar jam 16.00 WITA, cuaca yang lumayan panas, tetapi untung saja cerah. Belum setengah jam sampai dibukit malimbu II, seorang kawan si bayu yang menyusul dari Malang sudah tiba di terminal Mataram, akhirnya dua orang terpaksa menjemput dan dua orang lagi termasuk saya bertahan untuk memotret sunset, hahahaha.. ya ginilah, klo sudah pengen motret pokoknya ngotot harus dapet fotonya. Dua jam menunggu sunset nggk asik tanpa makanan dan minuman, mulailah lirik kanan dan lirik kiri untungnya ada juga penjual kopi dan jagung bakar "oke bi, kopi 4 ya bi" hahaha..!! Tapi kalau kalian berjalan ke bagian bawah, berhati hatilah kawan.. banyak ranjau di perjalanan (t*i sapi) yang sudah kering atau basah anget anget masih ada, untung saja ranjaunya tidak satupun saya injak, kalaupun iya tamat sudah harus cuci di air laut yang kalau turun jauh banget, hahaha..
Menanti sunset berdua di Bukit Malimbu II 
Sunset di Bukit Malimbu II, sayang sekali mendung andai saja cerah beda lagi ceritanya, haha

Tahun 2014 merupakan tahun yang istimewa bagi saya, banyak pengalaman yang saya dapat di tahun 2014 lalu. Dari menjadi seorang pejalan sampai memenangi beberapa lomba fotografi, saya selalu bersyukur atas semua pencapaian yang telah terwujud di tahun 2014 dan itu akan menjadi motivasi bagi saya di masa yang akan datang. Tahun baru telah tiba, tentunya harus di awali juga dengan semangat baru, salah satunya yaitu semangat menjelajahi nusantara.
Akhir tahun 2014 saya sempat berfikir, nanti awal tahun mau saya awali kemana ya travelingnya.. hmmm.. entah mengapa saya selalu bimbang, seperti kata orang januari itu hujan sehari - hari. Kedua orang tua saya tak hanya sekali mengingatkan "Yakin mau traveling di musim hujan, nanti kamu nggk bisa kemana - mana dan nggk dapet foto yang bagus". Bukan anak laki-laki namanya kalo musim hujan takut traveling, hahaha.. 
Setelah dipikir ngalor-ngidul, pulau Lombok menjadi destinasi awal pilihan saya di tahun 2015 ini. Kenapa saya memilih lombok, saya pernah mengunjungi pulau ini 3 tahun yang lalu, memory yang ada di otak saya masih kuat melekat akan keindahan yang diberikan oleh pulau lombok, memang waktu itu di pertengahan tahun 2012 saya lebih cenderung mendaki gunung rinjani dari pada explore pantai pantai yang masih tersembunyi dan alami di lombok. Jadi jika saya ke lombok saya ingin menjelajahi pantai pantai yang berpasir putih dengan suasana yang alami.
Tugu masjid di Lombok, simbol pulau ini sebagai pulau seribu masjid
Sesampainya di Pulau Lombok saya sedikit kaget melihat beberapa perubahan, banyak sekali hal yang berubah dari 3 tahun yang lalu. Mataram semakin ramai, jalanan semakin macet dan banyak bangunan baru seperti mesjid di Kota Mataram yang katanya mesjid terbesar di Pulau Lombok, wow.. betapa besarnya masjid itu. Di Pulau Lombok saya bertemu dengan seorang teman lama sekaligus teman perjalanan di Gunung Rinjani, klik Pendakian Gunung Rinjani kalau kalian ingin tau betapa hebatnya badai dan betapa indahnya Gunung Rinjani ini. 
Sore hari di hari pertama, saya langsung menuju bukit malimbu.. bukit malimbu merupakan salah satu tempat untuk menyaksikan sunset di pulau lombok, nanti setiap tempat yang saya kunjungi akan saya ulas lebih dalam lagi satu persatu, jadi bagi kalian yang berencana menikmati indahnya Lombok, jangan malas membaca yak, hahaha :p
Bukit Malimbu II, tempat yang asik menikmati sunset dan secangkir kopi
Batu Payung, Batunya lebih mirip sama ikan louhan tapi yak :)
Surfing asik di pantai selong belanak
Lombok itu indah kata orang, jangan percaya.. buktikan sendiri coy..!! 10 hari saya berada di Pulau Lombok, bersama seorang kawan lama yang berdarah lombok (Rian), dan seorang kawan fotografer dari jogja (Ipanovic), serta dua traveler dari malang yang gokil abis sekalian paling lama bangun tidur, hahhaa.. (Riris+Bayu). Kami berlima sudah seperti power rangers dan bahkan ada yang bilang mirip boy band kalau di foto, ahahah bodoamat sudah..!!
Ada yang bilang "Jangan Ke Lombok, Nanti Gak Mau Pulang !" ternyata itu benar kawan, keindahan dan budaya pulau ini tak ada habisnya di explore, saya selalu sempatkan mengunjungi beberapa tempat walaupun hanya sekedar memotret terus pulang ke mataram, hehehe.. 
Bukit Merese, merupakan bukit untuk melihat pantai keseluruhan dengan pasir yang putih
Cara kami menikmati pagi, bagaimana denganmu kawan..? :D
Destinasi di Lombok yang harus kalian kunjungi :
1. Bukit Malimbu
Indonesia merupakan Negara yang memiliki sejuta pesona wisata alam dan budayanya, bahkan hal yang sangat mustahil dilakukan dapat menjadi kenyataan seperti olahraga alam yang bernama Sandboarding. Di Indonesia baru di gumuk pasir Parangkusumo Yogyakarta yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas ini, lokasinya pun sangat mudah di jangkau dari pusat kota Jogja. Bersebelahan dengan pantai Parang Tritis yang sudah menjadi icon kota Jogja, maka jika kalian berkunjung ke Parang Tritis akan terlihat gumuk pasir yang luas dan disanalah biasanya aktivitas ini dilakukan.
Sandboarding sama halnya seperti snowboarding, menggunakan papan seluncur yang memiliki dudukan untuk kaki-kaki agar tidak mudah lepas tetapi yang membedakannya adalah sandboard memiliki olesan wax/lilin pada bagian dasarnya agar lebih licin saat meluncur. Dan jangan lupa juga menggunakan alat pengaman berupa helm kemudian bersiap-siaplah kalian menguji adrenalin di atas pasir dengan ketinggian yang berkisar antara 5-7 meter. Indonesia memang sudah jelas tidak memiliki salju, tetapi Indonesia memiliki pasir yang melimpah, meskipun berbeda antara salju dan pasir tetapi sensasi meluncur dari ketinggian merupakan hal yang luar biasa dan menantang. Saat ini gumuk pasir Parangkusumo menjadi tempat favorit ketika sore hari, para penggemar sandboarding tak hanya meluncur saja di atas pasir tetapi menikmati indahnya sunset di atas papan seluncur.
Awal mula mencoba olahraga ini saya melihat papan seluncur yang ada di sekretariat Mapagama (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada) yang kemudian saya bertanya untuk apa alat itu dan mulailah satu persatu mereka yang pernah berseluncur bercerita tentang asiknya bermain sandboaring. Tertarik mendengar cerita mereka saya dan teman teman Mapagama kemudian mencari waktu yang tepat untuk mencobanya, sesampai di gumuk pasir cukup kaget juga melihat medannya yang lumayan tinggi. Wah, kalau seperti ini sih cepat turunnya, tetapi capek untuk naiknya, hahaha.. beberapa teman-teman mulai mempersiapkan alat dan satu persatu meluncur dari atas pasir, teriakan demi teriakan dalam menyeimbangkan tubuh pun terdengar seru, melihat mereka bermain sandboarding saya pun ikut ingin merasakan bagaimana rasanya meluncur di atas pasir, jujur saya belum pernah mencoba permainan semacam ini seperti skateboard dan lainnya.
Setelah semua peralatan sudah saya persiapkan sekarang tinggal mengumpulkan nyali untuk meluncur dari atas pasir, dan belum juga siap untuk meluncur papan itu sudah meluncur dengan sendirinya, whoaaaaa… Cuma satu yang ada di pikiran saya saat itu, jika saya terjatuh maka akan banyak teman-teman yang tertawa karena berlumuran pasir, hahaha.. tetapi itulah serunya bermain sandboarding, jatuh bangun sudah biasa..

Mata yang masih terasa kantuk pagi itu saya paksakan untuk beranjak dari tempat tidur, tidak seperti biasanya saya bangun sepagi ini. Setelah sholat shubuh dan mempersiapkan alat fotografi saya langsung menuju tempat dimana kita berkumpul dan kemudian berangkat bersama menuju Gunung Kidul. Perjalanan sekitar 1,5 jam dari kota Jogja dengan jalan yang berliku-liku membuat saya tak sabar rasanya ingin segera sampai di lokasi. Rasa penasaran akan goa jomblang semakin mendekat menjadi semakin kuat, selalu bertanya tanya seperti apakah lubang goa itu yang sudah bertahun-tahun menjadi daya tarik keindahan di perut bumi. Goa Jomblang merupakan goa vertikal dengan hutan purba di dasarnya, untuk memasuki goa jomblang diperlukan tehnik SRT ( Single Rope Technique ) atau di dampingi oleh penelusur goa yang sudah berpengalaman.
setelah briefing dan persiapan menuruni mulut goa
Satu persatu dari ketujuh orang mulai menuruni tali yang sudah di persiapkan untuk turun dari mulut goa, jalur yang kami tempuh yaitu jalur VIP dan sayalah yang di tunjuk untuk turun pertama katanya yang paling muda duluan ya sudahlah mau nggk mau kalau protes panjang debatnya, hahaha.. Awal menuruni sangat susah bagi saya dengan membawa tas yang berisi kamera dan tas tripod menjadi beban sebagai pemula. menuruni goa jomblang dengan jalur VIP ini sekitar 20 meter agar mencapai dasar goa, rasa waswas dan adrenalin lagi-lagi terpacu untuk menuruni tali hingga sampai ke dasar goa.
Jalur VIP goa jomblang
Sesampainya di dasar goa, mulut goa grubuk juga belom terlihat dan diperlukan perjalanan sekitar 300 meter untuk menemukan cahaya di perut bumi. Pemandangan di dasar goa berbeda dengan kondisi di atas yang ketika musim kemarau sangat gersang dan udara yang panas membuat dehidrasi. Di dasar goa jomblang tumbuh pepohonan yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya sejak runtuhnya tanah di permukaan ke dasar goa, suasana sejuk dan angin yang keluar dari mulut goa membuat suasana menjadi tenang, mungkin disinilah ketenangan yang di dapatkan selain di ketinggian yaitu di perut bumi.
Mulut Goa Grubug
Dari mulut goa grubuk, berjalan sekitar 300 meter dengan gelap abadinya goa, maka sampailah di cahaya surga mahakarya sang pencipta yang wajib kalian saksikan langsung. Saya pribadi tak puas jika hanya melihat indahnya tanah air dari website atau foto milik orang lain, ada rasa ketertarikan sendiri yang membuat saya harus bergerak menyaksikan langsung mahakarya ini, jika orang lain bisa sampai kesana kenapa saya tidak bisa, seringkali perjalanan yang sulit itu akan menuju destinasi yang indah kawan. Setelah beberapa menit menelusuri jalanan yang licin, sampailah kami dimana "Ray of Light" berada. Subhanallah, beberapa saat sebelum memotret saya selalu melihat kondisi sekitar, sangat takjub rasanya untuk pertama kali melihat goa grubuk ini, suasana lembab dan suara sungai di dasar goa membuat suasana tak terasa hening, tetesan air yang jatuh pun menjadi perhatian saya agar tak jatuh tepat di kamera.
Sinar matahari yang jatuh ke dasar goa menjadi icon tersendiri bagi goa grubug ini
menikmati indahnya perut bumi goa grubug
Waktu terbaik untuk menikmati cahaya di goa grubug yaitu jam 10.00 pagi hingga jam 12.00, ketika melebihi jam 12.00 maka cahaya di goa akan berpindah posisi yang menurut saya pribadi juga sudah kurang bagus. Ayo jelajahi negerimu, tak perlu jauh jauh ke luar negeri untuk melihat keindahan alam karya sang pencipta karena tanah tumpah darah kita adalah surga baik di gunung, pantai dan juga perut bumi yang indah ini. Segeralah mengepak tas dan jelajahi Indonesiamu sebelum terlambat.
"Ray of Light" Goa Grubug
Bunga dan Lingkan, dua traveler wanita yang saya temui di goa grubug
Indahnya tanah air beta


Pintu Gerbang Menuju Surganya Pulau Jawa
Sudah lama rasanya saya membuat planning ke Karimun Jawa, mungkin sekitar 2 sampai 3 tahun yang lalu dan baru tahun ini bisa menginjakkan kaki di pulau ini, dadakan lagi.. Sebulan sebelum keberangkatan peserta yang mau ikut lumayan banyak, tetapi menjelang keberangkatan hanya 4 orang yang berani melangkahkan kakinya, hahaha.. Perjalanan dari Jogja - Jepara kami tempuh dengan menggunakan travel, pagi dini hari kami sampai di pelabuhan jepara dan kebetulan bertemu dengan 3 traveler yang berasal dari Bandung, okelah.. nambah temen baru deh buat meminimalkan pengeluaran selama di Karimun Jawa, hahaha.. 4-5 jam perjalanan di laut itu sumpah membosankan, kerjaannya cuma duduk, liatin hape, ngemil, tidur begitu seterusnya selama di kapal, awal naek kapal sih hepi banget, dengan bangganya beli tiket trus foto-foto di jalanan menuju dermaga, mau masuk kapal foto-foto, di dalem kapal juga foto-foto.. barulah setelah 1 jam di atas kapal titik kebosanan mulai menjadi virus bagi kami, hahaha..
Setelah sampai di pelabuhan Karimun Jawa, kami langsung menuju homestay yang sudah dipesan sebelumnya, oh ya.. perjalanan kami kali ini tidak mengikuti agen travel, karena biaya yang dikeluarkan jika ikut paket tour lebih mahal, kalo engga percaya coba aja ke Karimun nggk usah ikut paket tour dijamin deh nggk nyesel.. Setelah mendapatkan homestay kami istirahat sejenak dan inilah yang saya tunggu-tunggu, Sunsetnya karimun jawa yang katanya aduh mamah sayangeeeeeeee..
Sunset di Karimun Jawa, Mataharinya Bulet Gitu Coba
Kalo Matahari Udah Tenggelam, Jangan Pulang Dulu, Ada yang Beginian :)
Selama di Karimun Jawa, kami mengunjungi beberapa pulau utama, seperti Pulau Menjangan Besar dimana kalian bisa berenang bersama ikan Hiu yang sudah bersahabat dengan manusia tentunya, ada juga Pulau Menjangan Kecil, disini kalian akan snorkling yang kemudian lanjut menuju Pulau Cemara Kecil.. nah ini dia tempat yang menurut saya asik banget pantainya, pasirnya putih airnya pun ada yang biru muda dan biru tua, widih ikan berenang aja keliatan dari jernihnya.. di sini juga kami makan siang, menunya ikan bakar ala salami broo, sambalnya juaraaaa.. liatin aja udah bisa ngebayangin pedasnya dan gurihnya ikan bakar, hahahaha.. Dari Pulau Cemara Kecil lanjut menuju Pantai Ujung Gelam, di pantai inilah menurut guide kami yang bernama "Mas Ngadi" sunsetnya bagus banget.. 
Selfie Jemaah di Pulau Cemara Kecil
Sunset di Pantai Ujung Gelam, Karimun Jawa
Untuk mengunjungi pulau pulau yang saya sebutkan diatas itu, membutuhkan waktu sehari penuh total ada 3 pulau yang dikunjungi dibagian barat, untuk dibagian timur ada 3 pulau juga yaitu Pulau Kecil, Pulau Tengah dan Spot Gosong. Di Pulau Kecil merupakan spot yang cocok untuk snorkling, ombaknya nggk separah pulau bagian timur, begitu juga dengan Pulau Tengah, disini kami lanjutkan dengan makan siang dan bakar ikan lagi broooo.. Oh ya, kami di Karimun Jawa 7 Hari 6 Malam terdampar kesana kesini akibat Kapal Ferry Siginjay nggk nyebrang dari Jepara ke Karimun Jawa.. tapi kami justru bahagia, bisa lebih lama lagi menikmati pulau Karimun Jawa dan Kemojan. Kali ini perjalanan darat dimulai, dengan sewa motor milik warga langsunglah kami menuju mangrove tracking dan juga bukit love, bukit yang katanya penduduk sekitar romantis buat menyaksikan sunset, acieeeeee.. hahahaha..
Mangrove Tracking, Salah Satu Tempat Menyaksikan Sunset
Homestay di Pantai Baracuda
Dermaga di Pulau Tengah




Pagi itu, tanggal 9 Desember 2013 merupakan hari terakhir kami di Danau Toba, ah sedih rasanya kalau hari ini harus berpisah dengan danau toba yang kaya akan wisata alam dan budayanya, tetapi apa boleh buat paket wisatanya hanya 3 hari 2 malam, hahaha.. hari ini saya bangun kesiangan, rencana mau melihat sunrise kalah oleh selimut di kamar dan bantal yang empuknya minta ampun. Mau bangun aja rasanya berat, apalagi mau buka selimut.. tetapi jika saya nggk cepat bangun saya nggk bakalan tau apa yang ada diluar sana ketika pagi hari.. segeralah saya cuci muka dan membuka pintu, wowwww.. hari yang cerah di hari terakhir, sungguh sedih bercampur gembira karena beberapa hari kami selalu ditemani awan mendung.. benar-benar ending yang mengharukan, seakan-akan danau toba memaksa kami untuk tinggal beberapa hari lagi, hahaha.. oya, ini beberapa koleksi foto saya di Toba Cottage, jadi jika kalian berkunjung ke pulau samosir, wajib rasanya bermalam di tempat ini. 
Nih pemandangan dari Tabo Cottage, gimana.. keren kan, hahaha :p
Kolam renangnya bikin pengen nyebur kan, hahaha.. kalo kelewat putih boleh lho berjemur disana :p
Suasana di pagi hari, ketika masih pada sarapan, saat yang tepat mengambil gambar ;p
Oya, Tabo Cottage ini dimiliki oleh seorang berkebangsaan Jerman yang menikah dengan Antonius Silalahi, penduduk setempat. Annette boru Siallagan bersama Silalahi mendirikan Tabo Cottages sejak beberapa tahun yang lalu. Dia menceritakan awal mulanya mendirikan penginapannya Cuma terdiri dari beberapa kamar dengan satu restoran. Hotel ini termasuk sebagai hotel senior yang ada di daerah Danau Toba. Sebagian besar penginapan yang ada menawarkan keelokan Danau Toba dengan mempunyai dermaga dipinggir danau. Oke. sampai jumpa Danau Toba, Pulau Samosir dan Sumatera Utara, lain kali saya bakalan sebulan deh traveling kesana, amin.. ada yang mau ikut..? :p
Kalo berjemur disini, kalian akan menikmati indahnya Danau Toba :)
Tinggal pilih mau kamar yang mana, asal kosong sih :p

Setelah melihat suku Batak dimasa lampau, kini saatnya saya berkemas dari hotel dan melanjutkan perjalanan kami menuju Air Terjun Situmurun. Nama lain dari Air Terjun Situmurun adalah Air Terjun Binangalom. Nama ini diambil dari nama desa terdekat dimana air terjun ini berada. Kata Binangalom berasal dari nama sebuah sungai, yakni Lum atau Lom yang dalam bahasa bataknya berarti air penyejuk hati.
Patung yang berada di Pora-Pora, mungkin patung ini merupakan patung selamat datang yang menyambut wisatawan
Perjalanan menggunakan kapal menuju Air Terjun Situmurun bersama KM Star 03
Perjalanan dari Balige membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam dan kami harus kembali ke Parapat, karena jika ingin melihat air terjun ini kami harus menggunakan kapal. 30 menit menggunakan kapal mengarungi luasnya danau toba, tiba-tiba muncul juga air terjun itu, tetapi kok nggk mampir ya, lho katanya mau ke Air Terjun Situmurun..? Owh, ternyata kami mau ke Pora-Pora seperti biasa Coffee Break dulu bro, asik.. Sampai di Pora-Pora yang pertama kali saya cari adalah toilet, maklum udah kebelet semenjak dikapal.. Pemandangan di Pora-Pora ini hanyalah bukit-bukit yang terdapat beberapa tempat persinggahan, ya semacam teluk gitu deh..
Pora-Pora tempat terpencil yang sejuk dan damai
Anak-anak danau toba, yang tinggal di Pora-Pora
Setelah istirahat sejenak perjalanan dilanjutkan menuju Air Terjun Situmurun, jaraknya sekitar 15 menit menggunakan kapal, dan ini dia Air Terjun Situmurun, taraaaa.. kamera segera saya keluarkan, dengan cuaca yang sedikit mendung dan keadaan kapal yang bergoyang-goyang sulit rasanya memotret air terjun ini, memakai tripod pun sangat sulit, hahaha.. belum lagi jika lebih dekat dengan air terjun itu rembesan air terjun bagaikan hujan grimis, wah maen aman deh, memasukkan kembali kamera dan menikmati pisang goring, hohoho.. Sebenarnya keberadaan air terjun ini hampir terlupakan. Padahal dulu air terjun ini menjadi tempat wisata favorit di Parapat selain batu gantung yang juga sohor itu. Destinasi ini hanya digandrungi oleh Wisatawan asing akibat jasa sewa kapal yang cukup mahal. Ada yang unik menurut saya, yaitu Air Terjun Situmurun mengalir langsung ke Danau Toba, bukan ke laut lepas dan air terjun ini juga dipercaya oleh masyarakat setempat dapat mendatangkan jodoh lho.. pantesan di ajakin kesini, hahaha..
Nah itu dia Air Terjun Situmurunnya bro, besok pasti dapet jodoh lu bro.. hahaha
Disekitar Air terjun pepohonan yang berada ditebing merupakan tempat tinggal bagi burung bangau
Dari air terjun perjalanan dilanjutkan menuju pulau samosir, di pulau samosir kami menuju ke Batu Persidangan. Dinamakan Batu Parsidangan karena memang fungsinya untuk mengadili penjahat atau pelanggar hukum adat (kasus pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dan lainnya) atau juga untuk musuh politik dari sang raja. Di sini jugalah saya di ceritakan tentang sejarah makam raja yang pertama yang belum menganut agama dan makam raja yang sudah menganut agama. Karena waktu sudah malam, kami harus segera menuju cottage untuk beristirahat dan makan malam. Makan malam kami ternyata istimewa, dengan di iringi musik oleh marsada band, band asal batak yang udah terkenal, selain itu kami juga diperbolehkan foto-foto bersama personilnya lho, tentunya setelah bergoyang bersama ala batak, hahaha..
Makam raja di Daerah Batu Persidangan, Pulau Samosir
Cottage tempat kami bermalam, di depan kolam renangnya langsung danau toba lho.. :p
Kamar saya dan dewo, yang kemudian di ambil alih oleh dewo, haha
Foto bersama personil Marsada Band, Cisss :)


Mulailah menulis satu kata, lalu satu kalimat, kemudian satu paragraf, selanjutnya satu halaman, sampai akhirnya menjadi satu buku…

Powered by Blogger.