Pantai Pok Tunggal, Pantai yang Sudah Tidak Tersembunyi Lagi

Tuesday, 21 May 2013


Setelah pantai wediombo, pantai siung, pantai kukup, dan pantai indrayanti yang akhir-akhir ini begitu ramainya di kunjungi oleh wisatawan, muncul lagi satu primadona pantai di Gunung Kidul, Pantai Pok Tunggal namanya. Pantai ini sudah tak lagi bersembunyi, lokasinya tak jauh dari pantai siung penduduk lokal pun mengerti jika kalian bertanya dimana pantai pok tunggal berada.

Sunset di Pantai Pok Tunggal
Akses menuju pantai ini boleh saya bilang cukup jelek, jalanan buatan dari semen di kedua sisinya dan sesekali terdapat bebatuan merupakan akses yang kurang baik, mengingat jalannya yang cukup sempit. Jika menggunakan motor mungkin saya rasa tidak masalah, tetapi jika menggunakan mobil pribadi atau bus mini saya rasa sudah cukup sulit untuk berpapasan.

View pantai pok tunggal

Dari sudut pandang keindahannya, saya rasa cukup terbayar dengan jalanan yang kurang baik tadi dengan pesona yang dimiliki pantai pok tunggal. Setahun yang lalu saya mengunjungi pantai ini masih sedikit fasilitas yang disediakan, sangat jarang juga penjual yang berada di pantai ini. Tetapi, tidak untuk beberapa minggu yang lalu, ketika saya mengunjungi untuk kedua kalinya, fasilitas yang disediakan sudah mulai lengkap, dari payung pantai lengkap dengan tikarnya, tempat parkir yang banyak dan warung makan yang berbaris disepanjang pantai.

Bukit sebelah timur pok tunggal
Tak hanya fasilitas di pesisir pantai, anda juga dapat menikmati indahnya pantai pok tunggal dari kedua bukit yang mengapit pantai ini. Di bukit sisi barat, terdapat pondok untuk berteduh, hanya dengan mengeluarkan uang secara suka rela anda bisa menikmati indahnya pantai selatan dan matahari terbenam tentunya.
Suasana pagi hari dari bukit sebelah barat

Di sisi timur berbeda lagi kondisinya memasuki bukit panjang, jalan atau tangga buatan dari tanah ini cukup licin jika musim hujan, belum lagi anda akan melewati jembatan buatan penduduk lokal di sisi tebing yang saya rasa cukup extreme. Jembatan yang terbuat dari bambu dan di ikat dengan tali ini saya rasa harus mendapatkan perhatian khusus kedepannya, mengingat bambu yang kondisinya mudah rapuh.
Jalan setapak menuju bukit sisi timur
Jembatan sepanjang
Di bukit sisi timur, sudah terdapat penjual makanan dan minuman, jadi anda tidak usah takut jika kelelahan menaiki bukit ini. Cukup memesan minuman dan menikmati sisi lain pantai pok tunggal dengan sunsetnya yang indah. 
 
Sunset pantai pok tunggal

Embung Gunung Api Purba Ngelanggeran, Bioskop Untuk Menyaksikan Sunset

"Senja kadang kuanggap sebagai setampil layar bioskop, dimana aku duduk di beranda, menatapi matahari bundar hilang diantara sayatan merah jingga".
Sebuah senja sebuah cerita, mungkin itulah yang saya artikan dari senja. Ketika sore hari saya tidak pernah bosan menikmati indahnya senja dimanapun berada, ada warna alami yang terlihat ketika senja, saya menyebutnya seribu warna karena tiap detik demi detik tenggelamnya mentari warna itu akan berubah menunjukkan keindahannya.
Senja di Embung Ngelanggeran

Saya selalu ingin menikmati senja dengan suasana yang berbeda, sebagai seorang traveler seharusnya dapat menikmati keindahan dari berbagai sisi, dan kali ini saya akan berbagi keindahan senja di embung gunung api purba, ngelanggeran.
Senja Seribu Warna

Embung ini letaknya tak jauh dari Gunung Api Purba Ngelanggeran, jika dari Kota Yogyakarta hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Datanglah lebih awal sebelum matahari terbenam, lokasi ini bagi saya seperti tempat menonton di bioskop, terbuka luas dengan waduk untuk menyaksikan matahari tenggelam.

Kondisi jalan menuju lokasi ini masih terbilang kurang baik, jalanan yang berbatu dan sempit lagi-lagi menyulitkan pengendara mobil, tak jarang motor pun ikutan mengantri seperti di lampu merah. Fasilitas yang disediakan masih minim, dengan tiga tempat parkir dan dua warung saya rasa masih kurang, saya juga tidak melihat adanya toilet umum yang terlihat jelas di sepanjang lokasi ini. Mungkin beberapa waktu kedepan seiring memikatnya pesona embung dimata masyarakat akan lebih meningkat juga fasilitas dan sarana yang ada. 


Pesona Pantai Sadeng, Pantai Nelayan yang Hanya Sesudut

Monday, 20 May 2013


"Liburan adalah waktu yang paling banyak ditunggu setiap orang. Walaupun untuk liburan, banyak hal yang bisa dilakukan dari mulai yang sederhana sampai liburan yang memakan biaya tinggi".
Jernihnya air di Pantai Sadeng
Perjalanan menjelajahi daerah pesisir Gunung Kidul kali ini sampai juga ke Pantai Sadeng, yang terletak di Kecamatan Girisubo. Pantai Sadeng adalah pantai pelabuhan penangkapan ikan terbesar di wilayah Jogjakarta yang terletak di ujung timur Kabupaten Gunung Kidul, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Wonogiri di Jawa Tengah. 
Dermaga dan mercusuar Pantai Sadeng
Penahan Ombak buatan
Pantai ini lebih dikenal dengan pantai nelayan, karena terdapat semacam teluk dengan penahan ombak buatan. Dengan adanya penahan ombak ini, ganasnya laut selatan bisa diredam dan ombak kencang tidak akan mencapai daratan langsung sehingga kapal-kapal nelayan bisa diparkir dengan tenang.
Teluk di Pantai Sadeng, tempat nelayan memarkirkan kapalnya
Kapal yang digunakan untuk menangkap ikan
Yang menarik dari pantai sadeng ini yaitu pantainya yang hanya sesudut, meskipun sesudut tetapi anda dapat menikmati beningnya air laut, tenangnya ombak, dan putihnya pasir pantai. Tak hanya itu, jika ingin menikmati desiran angin dan suara ombak anda dapat beristirahat di bawah karang pinggir pantai.
View Pantai sadeng dari dalam karang
 Mengunjungi pantai sadeng belum lengkap rasanya jika kalian belum menikmati hidangan lautnya. Ikan, Kepiting, Lobster, Udang, hingga cumi akan kalian temukan di pantai ini dengan harga yang sesuai. Hawanya pun akan menjadi jauh lebih sejuk jika waktu sudah menjelang sore hari. Angin segar pun akan menemani kalian yang menikmati kuliner tersebut.

Pantai Ngobaran, Suasana Bali di Yogyakarta

Siapa sangka di balik bebatuan dan alam Gunung Kidul yang gersang, terdapat pantai-pantai yang indah dan eksotis, seperti Pantai Ngobaran. Ada yang unik dari pantai ini, bangunan yang paling jelas terlihat adalah tempat ibadah semacam pura dengan patung-patung dewa berwarna putih yang berada di ujung karang mirip seperti yang ada di Bali.
View Pantai Ngobaran dari bukit
Belum banyak yang tahu tentang pantai ini dibandingkan dengan Pantai Baron atau Parang Tritis. Padahal keindahan pantai dan wilayah sekitarnya cukup memukau. Pertama kali mengunjungi Pantai Ngobaran. Seperti kebanyakan pantai yang ada di wilayah Gunungkidul, di pantai ini banyak terlihat tebing atau bukit-bukit batu yang menemani pemandangan pantai. Sungguh indah melihat hamparan laut dari atas bukit. Dari sisi lain akan terlihat pantai dengan tebing-tebing menawan dipadu pohon pandan besar dan flora khas lainnya.
Tebing yang menjadi ciri khas pantai Gunung Kidul
Patung dewa di Pantai Ngobaran
Dari lokasi patung tersebut anda dapat juga menuruni tebing menggunakan tangga buatan menuju pantai yang terbilang cukup sempit, bebatuan yang berada di pinggir pantai membuat arus laut menjadi tenang, sesekali terlihat seseorang sedang asyik bermain pasir dan berenang di lokasi ini. Namun anda harus berhati-hati karena tangganya lumayan curam, tapi bagi saya sungguh asyik dan menantang.
Patung dewa ketika memasuki area pure
Tangga buatan untuk turun menuju pantai



















Menuju ke arah barat kalian dapat menikmati indahnya pantai Ngobaran, hamparan pasir dan desiran ombak yang terbilang cukup ramah kalian dapat juga menikmati dinginnya air laut. Ngobaran merupakan pantai yang cukup eksotik. Kalau air surut, anda bisa melihat hamparan alga (rumput laut) baik yang berwarna hijau maupun coklat. Jika dilihat dari atas, hamparan alga yang tumbuh di sela-sela karang tampak seperti sawah di wilayah padat penduduk. Puluhan jenis binatang laut juga terdapat di sela-sela karang, mulai dari landak laut, bintang laut, hingga golongan kerang-kerangan.
View Pantai Ngobaran dengan Pasir Putihnya
Pantai Ngobaran terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul. Berjarak 65 KM dari Kota Yogyakarta. Jarak tempuh bisa dari Wonosari dan juga bisa dari Pantai Parang tritis, tetapi untuk saat ini jalan dari pantai Parang Tritis sedang dalam perbaikan. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi ini bila dari kota Yogyakarta.

Dieng Plateau.. auu.. auww.. auu..

Tuesday, 9 April 2013

Dieng Plateau..
Sepertinya nama tempat ini sudah tak asing lagi bagi seorang traveler, jika kalian belum pernah mendengarnya, silahkan membaca blog ini, atau mencari d google juga boleh :D
Sang Mentari dari Dieng
Seperti biasa, rencana yang selalu dadakan itu pasti akan berjalan sesuai kesepakatan bersama, bersama-sama mikir, bersama-sama pengen liburan, bersama-sama berdebat, bahkan bersama-sama pusing, hahaha..
Siang itu sudah di putuskan kalau kami akan menuju karimun jawa, “lho.. kok ke karimun jawa sih..?? kata seorang kawan, aku nggk ikutan deh kalo kalian ke karimun jawa..!!” semua yang ada di otak kami sama, yaaa.. karena dia udah pernah ke karimun jawa dan kita masih belom pernah, dasar curang, haha..?! Tiba-tiba salah seorang teman memberikan usul, “gimana kalo ke dieng aja..?” lagi-lagi dia menolak usul itu lagi.. “jangan ke dieng bro, gw udah pernah..??” (^%w*%s##^^u@&%#). Tapi kalau aku yang turun tangan, pasti semua keracunan, haha.. berbekal hasutan maut, dan searching eyang google, mulailah satu persatu keracunan akan omonganku, wakakakak..
Malam itu kami berangkat dari Jogja dengan enam personil, 5 cwo dan 1 cwe ( yang cwe gw culik, haha ) jam 23.00 WIB dengan tujuan dataran tinggi dieng.. jam 04.00 WIB kami sampai di dieng, setelah sholat shubuh, kami langsung menuju lokasi yang katanya bagus buat melihat sunrise, jalanan yang susah membuat kami harus jalan untuk mencapai lokasi ini, yah itung itung diet, udah kelewat ini berat badan, halah curhat (abaikan..!!) Dan wow, sunrise emang bener bener indah, dan hanya berlangsung beberapa menit saja, karena cuaca sedikit mendung.
Karena salah seorang dari kami sudah ada yang pernah menjelajahi dieng, jadi kami sudah mengerti rute mana aja yang bakalan kami tempuh..
Pertama : Sunrise an di dieng ( √ )

Kedua : Nonton Film Dokumenter ( √ )


Ketiga : Telaga Warna ( √ )

Keempat : Mblusukan cari patung ( √ )

Kelima : Kawah Sikidang ( √ )

Keenam : Candi Arjuno ( √ )

Ketujuh : Neletubbies ( √ )

Nah itu dia seharian di dieng, dari pagi sampai sore, badan pegel pegel semua, capek di foto (halah..) tapi kami semua mempunyai pengalaman yang indah di dieng, dengan wisata alam dan sejarahnya banyak hal yang kami dapatkan, menghilangkan stress sejenak boleh lah ya buat mahasiswa tingkat akhir, curhaaattt.. (abaikan) :D

Cerita dari Sang Naga Di Pulau Komodo, Flores

Tuesday, 29 January 2013

Pulau Komodo hanya ada satu di Asia, hanya ada satu di Dunia dan hanya ada satu di Indonesia..

Sebelumnya saya mau mengucapkan banyak terima kasih kepada TamasyaHati, Polimoli, Iphonesia, dan Simpati telah memilh saya sebagai juara foto moment ter-seru dihari ke enam. Tanpa kalian mungkin saya hanya bisa menikmati keindahan Flores terutama Komodonya melalui media massa.
seluruh peserta tamasyahati berkumpul dibandara soekarho-hatta
Hari pertama, tanggal 24 Januari 2013 kami semua berkumpul di Bandara Soekarho-hatta, Jakarta. Dari sinilah semua petualangan dimulai, kami saling berkenalan satu sama lain, dan tepat jam 06.00 WIB pesawat berangkat dari Jakarta dan transit di Bali sekitar jam 09.30 WITA. Dari bandara Ngurah Rai, Bali kami melanjutkan perjalanan ke Bandara Labuan Bajo, Flores. Tiba di bandara Labuan Bajo jam 10.30 WITA dan langsung menikmati hidangan makan siang di Paradise Restourant. Dari restaurant saja keindahan alamnya sudah terasa, hamparan pulau kecil dan pelabuhan Labuan Bajo Nampak dari tempat ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan Bus Pariwisata menuju Kampung Melo, Desa Liang Ndara.
Pemandangan yang indah dari Paradise restaurant sehabis makan siang
Upacara penyambutan oleh kepala suku Manggarai
namanya tarian caci, tarian perang tradisonal suku manggarai
Rumah kepala suku Manggarai
Foto bersama kepala suku Manggarai
Jam 13.30 kami tiba di kampong Melo, sungguh saya kaget melihat antusiame suku Manggarai menyambut kita, baru pertama kali saya menikmati penyambutan yang luar biasa, disana kami melakukan upacara penyambutan dengan seekor ayam, uang 10.000 rupian dan meminum minuman khas flores, dan itu tandanya mereka bahagia menerima kedatangan kita. Mereka menampilkan tarian perang ala suku Manggarai, serta alat alat tradisional yang mereka gunakan. Jam 16.00 WITA kami melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo untuk menyebrang ke Pualu Kanawa tempat kita bermalam. Dari pelabuhan Labuan Bajo sunset begitu indah, meskipun ada sedikit hambatan di perjalanan, yaitu ada truk yang mogok dan kami harus menunggu berjam-jam.
Sunset di Labuan Bajo
bukan hanya saya yang mengabadikan sunset, tetapi semua :D
Hari kedua, tanggal 25 Januari 2013 kami nikmati indahnya Pulau Kanawa di pagi hari, kami juga tak melewatkan mengabadikan sunrise, sungguh mempesona dan tak ada bandingannya. Setelah itu kami lanjutkan dengan olah raga pagi ala 80’an, dan yang saya sesali adalah bangun kesiangan sehingga melewati senam unik itu. Setelah sarapan pagi, jam 10.30 WITA kami berangkat menggunakan dua perahu untuk berlayar menuju Pulau Rinca, di Pulau Rinca ini juga terdapat komodo, selain di Pulau Komodo sendiri. Di pulau Rinca komodonya sedikit jinak, banyak komodo yang berada di bawah rumah dapur, mereka menunggu untuk diberi sisa makanan yang ada. Sebelum menuju pulau rinca, kami makan siang di pulau kambing, beberapa dari kami ada yang memancing, berenang dan berfoto – foto ria untuk mengisi waktu senggang selagi awak kapal memasak. Setelah makan siang kami lanjutkan perjalanan menuju Pulau Rinca.
Pagi itu di Pulau Kanawa
Sunrise dari pulau kanawa
Cottage di pulau kanawa
dermaga di pulau kanawa
suasana malam dhari dipulau kanawa
Senam pagi ala 80'an
Tiba di pulau rinca jam 15.00 WITA, kami melakukan briefing oleh pemandu, diantaranya tidak boleh berisik, tidak boleh terpisah dari rombongan dan jangan mengundang perhatian komodo karena kita memakai baju berwarna merah. Setelah briefing kami tracking untuk melihat sang naga komodo dan “wow” kali ini kami benar - benar melihat komodo secara langsung dari dekat dan asli. Setelah puas foto bersama sang naga komodo kami malanjutkan perjalanan menuju pulau komodo, di pulau komodo ini kami hanya bermalam dan beramah tamah dengan penduduk dengan pemutaran film karya anak bangsa. Kami disambut begitu meriahnya, walau hujan gerimis tak jadi penghalang buat mereka untuk menyambut kita
kayu itu merupakan kayu yang dipegang oleh guide
Foto bersama di pintu masuk pulau rinca
ini dia sang naga komodo :D
Keesokan paginya di hari ke tiga kami juga mengabadikan sunrise dari pulau komodo, ketika kami akan pulang tiba - tiba muncul pelangi diatas kampung pulau komodo, sungguh fenomena alam yang menakjubkan seakan-akan pelangi itu memberikan perpisahan yang indah bagi kita dan kampung komodo. Dari kampung komodo kami menuju pink beach, di pink beach ini kami snorkeling sampai puas, banyak ikan ikan dan terumbu karang yang masih alami dan bagus. Ikan ukuran besar pun juga bermunculan, sesekali saya melihat ikan bertelur dan dibuahi oleh sang jantan. Setelah puas snorkeling saya mendaki ke atas bukit untuk melihat pemandangan disekitar pink beach, sungguh indah dan mempesona. Setelah puas snorkeling di pink beach kami lanjutakn perjalanan menuju manta point, manta point yaitu daratan berukuran kecil tanpa ada pepohonan, di sana hanya ada pasir dan jika kita beruntung akan menemukan manta (sejenis ikan pari) yang tidak beracun dan dapat berenang bersama.
Sunrise di pulau komodo
langit membara di atas pulau komodo
narsis dulu :D
haaaaaaaaaaaaaaa :D
dari pada bosen di kapal mending narsis ria :D
tuh dari kapal aja udah bening air lautnya :D
Pink Beach pulau komodo
Malam harinya kami melanjutkan kegiatan perpisahan, kami menceritakan kesan dan pesan selama traveling, dan juga performance dari tiap tim. Malam itu penuh dengan canda dan tawa, tim yang menang adalah tim dari om raja, om bedul, om aries, om pokipong dan tante echi. Salut deh buat mereka, idenya kreatif abis sampai membuat seluruh peserta tertawa, hehe..
sunset di pulau kanawa
Hari ke empat adalah hari dimana kami akan meninggalkan pulau flores, banyak kenangan selama 3 hari di pulau ini, kebersamaan, berbagi ilmu dan belajar fotografi bersama, benar benar pengalaman yang tak bias dilupakan. Pagi hari saya sempatkan mengabadikan sunrise dipulau kanawa ini. Setelah berpamitan dan foto bersama di pulau kanawa kami langsung menuju Labuan bajo dan dilanjutkan menuju bandara. Sungguh tak tega rasanya meninggalakan pulau pulau kanawa menuju pelabuhan Labuan bajo. Dari bandara Labuan bajo kami berangkat jam 11.00 WITA dan transit di bandara Ngurah Rai, Bali lalu dilanjutkan menuju bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. 4 hari 3 malam kami bersama, sungguh sulit untuk berpisah, tetapi kami harus kembali pada kota kami masing masing, semoga lain kali kami dapat bersama sama kembali menikmati indahnya nusantara, kekayaan alam yang tak ada batasnya, sungguh indah Indonesia kita.
selamat tinggal pulau kanawa, flores, tapi aku pasti akan kembali :D





Quam un skeptic

Nostrum and exerci
Delete this widget in your dashboard. This is just an example.

Samged familie

Nostrum and exerci
Delete this widget in your dashboard. This is just an example.

Faucibus tincidunt

Nostrum and exerci
Delete this widget in your dashboard. This is just an example.