About The Author

Yang membuat seseorang jadi dewasa itu bukan umur, tetapi pengalaman hidup.

Get The Latest News

Sign up to receive latest news

Thursday, 9 October 2014

Goa Grubug, Bermandikan Cahaya di Perut Bumi

Mata yang masih terasa kantuk pagi itu saya paksakan untuk beranjak dari tempat tidur, tidak seperti biasanya saya bangun sepagi ini. Setelah sholat shubuh dan mempersiapkan alat fotografi saya langsung menuju tempat dimana kita berkumpul dan kemudian berangkat bersama menuju Gunung Kidul. Perjalanan sekitar 1,5 jam dari kota Jogja dengan jalan yang berliku-liku membuat saya tak sabar rasanya ingin segera sampai di lokasi. Rasa penasaran akan goa jomblang semakin mendekat menjadi semakin kuat, selalu bertanya tanya seperti apakah lubang goa itu yang sudah bertahun-tahun menjadi daya tarik keindahan di perut bumi. Goa Jomblang merupakan goa vertikal dengan hutan purba di dasarnya, untuk memasuki goa jomblang diperlukan tehnik SRT ( Single Rope Technique ) atau di dampingi oleh penelusur goa yang sudah berpengalaman.
setelah briefing dan persiapan menuruni mulut goa
Satu persatu dari ketujuh orang mulai menuruni tali yang sudah di persiapkan untuk turun dari mulut goa, jalur yang kami tempuh yaitu jalur VIP dan sayalah yang di tunjuk untuk turun pertama katanya yang paling muda duluan ya sudahlah mau nggk mau kalau protes panjang debatnya, hahaha.. Awal menuruni sangat susah bagi saya dengan membawa tas yang berisi kamera dan tas tripod menjadi beban sebagai pemula. menuruni goa jomblang dengan jalur VIP ini sekitar 20 meter agar mencapai dasar goa, rasa waswas dan adrenalin lagi-lagi terpacu untuk menuruni tali hingga sampai ke dasar goa.
Jalur VIP goa jomblang
Sesampainya di dasar goa, mulut goa grubuk juga belom terlihat dan diperlukan perjalanan sekitar 300 meter untuk menemukan cahaya di perut bumi. Pemandangan di dasar goa berbeda dengan kondisi di atas yang ketika musim kemarau sangat gersang dan udara yang panas membuat dehidrasi. Di dasar goa jomblang tumbuh pepohonan yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya sejak runtuhnya tanah di permukaan ke dasar goa, suasana sejuk dan angin yang keluar dari mulut goa membuat suasana menjadi tenang, mungkin disinilah ketenangan yang di dapatkan selain di ketinggian yaitu di perut bumi.
Mulut Goa Grubug
Dari mulut goa grubuk, berjalan sekitar 300 meter dengan gelap abadinya goa, maka sampailah di cahaya surga mahakarya sang pencipta yang wajib kalian saksikan langsung. Saya pribadi tak puas jika hanya melihat indahnya tanah air dari website atau foto milik orang lain, ada rasa ketertarikan sendiri yang membuat saya harus bergerak menyaksikan langsung mahakarya ini, jika orang lain bisa sampai kesana kenapa saya tidak bisa, seringkali perjalanan yang sulit itu akan menuju destinasi yang indah kawan. Setelah beberapa menit menelusuri jalanan yang licin, sampailah kami dimana "Ray of Light" berada. Subhanallah, beberapa saat sebelum memotret saya selalu melihat kondisi sekitar, sangat takjub rasanya untuk pertama kali melihat goa grubuk ini, suasana lembab dan suara sungai di dasar goa membuat suasana tak terasa hening, tetesan air yang jatuh pun menjadi perhatian saya agar tak jatuh tepat di kamera.
Sinar matahari yang jatuh ke dasar goa menjadi icon tersendiri bagi goa grubug ini
menikmati indahnya perut bumi goa grubug
Waktu terbaik untuk menikmati cahaya di goa grubug yaitu jam 10.00 pagi hingga jam 12.00, ketika melebihi jam 12.00 maka cahaya di goa akan berpindah posisi yang menurut saya pribadi juga sudah kurang bagus. Ayo jelajahi negerimu, tak perlu jauh jauh ke luar negeri untuk melihat keindahan alam karya sang pencipta karena tanah tumpah darah kita adalah surga baik di gunung, pantai dan juga perut bumi yang indah ini. Segeralah mengepak tas dan jelajahi Indonesiamu sebelum terlambat.
"Ray of Light" Goa Grubug
Bunga dan Lingkan, dua traveler wanita yang saya temui di goa grubug
Indahnya tanah air beta


»»  read more

Monday, 8 September 2014

JFC Art Wear Carnival, Imajinasi Manusia Tentang Busana

Hari kedua Jember Fashion Carnaval (JFC) 2014 berlangsung dengan tema "Art Wear Carnaval". Sebelumnya di hari pertama yaitu JFC Kids Carnival dengan penampilan yang menggemaskan bagi para penonton. Di hari kedua ini tentunya tak kalah seru dengan hari pertama, Art wear yang melambungkan suatu imajinasi musim dingin juga tampil dengan sepuluh defile yaitu Mahabharata, Borobudur, Flying Kite, Chemistry, Phoenix, Wild Deer, Stalagmite, Pine Forest, Tambora dan Apache. Sebagai kekayaan alam yang terancam punah, salah satu defile yaitu Wild Deer memiliki keunikan salah satu satwa langka yang dilindungi di Indonesia.
Defile Wild Deer
Defile Flying Kite
Selain itu ada juga Defile Tambora, diambil dari sebuah legenda yang mampu membuat dunia gelap gulita berhari hari dan letusan dahsyatnya juga telah menciptakan anomali cuaca diberbagai belahan bumi. Nuansa khas corak NTB sudah pastinya akan selalu menjadi penanda defile Tambora ini.
Defile Tambora
Defile Borobudur
Art wear Carnival ini merupakan suatu bukti bahwa JFC ingin membuktikan dirinya sebagai Global Trend Setter. Carnaval Artwear inilah buktinya bahwa imajinasi para talent JFC telah membuktikan bahwa mereka mampu mendesain busana musim dingin dengan penuh kreativitas. Inilah suatu seni merancang busana yang menjanjikan sebuah penampilan unik.
Defile Chemistry
Defile Mahabharata
Defile Phoenix
Defile Stalagmite


»»  read more

Wednesday, 27 August 2014

Kids Carnival JFC13, Sikecil yang penuh warna

Jember Fashion Carnaval yang dimulai dari tanggal 21 Agustus 2014 menampilkan Kids Carnival, dalam JFC Kids Carnival kali ini para penonton akan diajak menyaksikan penampilan fashion show yang  diperagakan oleh murid TK dan SD kota Jember. Defile yang akan berparade kali ini adalah Mahabharata, Borobudur, Flying Kite, Chemistry, Phoenix, Wild Deer, Stalagmite, Pine Forest, Tambora dan Apache. Pembukaan Kids Carnival yang dimulai jam 15.00 WIB di awali dengan tarian yang kemudian diikuti oleh masing masing defile.

Mahabharata, sebagai pembuka Kids Carnival
Mahabharata yang memakai kostum bernuansa kuning menjadi laga pembuka. Siapa yang tidak kenal dengan kisah Mahabharata, dalam parade kali ini penonton akan di ajak melihat kembali masa kejayaan dan keagungan kisah kerajaan di Khayangan.
Si kecil dengan kostum Mahabharata
Sikecil dengan Kostum Borobudur
Sikecil dengan Kostum Phoenix
Sikecil dengan kostum Flying Kite
Sore itu benar benar manjadi magnet bagi para fotografer, polosnya anak kecil dengan kostum unik dan berbagai ekspresi membuat penonton kagum dan tertawa sesekali karena lucunya anak-anak tersebut. Ada yang berani tampil di depan kamera dan ada yang malu-malu dan langsung melanjutkan karnaval dengan rute yang di tentukan yaitu mengelilingi alun alun kota Jember.
Sikecil dengan kostum Pine Forest
Kids Art Wear Stalagmite
Kids Art Wear Tambora
Sikecil dengan kostum Wild Deer
Kids Art Wear Apache

»»  read more

Tuesday, 5 August 2014

Bakso Kabut, Penggugah Selera Dari Jember

Postingan pertama tentang wisata kuliner saya kali ini yaitu "Bakso Kabut", aneh tapi nyata ada di Indonesia lho.. khususnya yang saya tahu selama ini masih ada di wilayah Jember, Jawa Timur. Memang kabupaten Jember dan Bondowoso ini merupakan tempat yang paling banyak menawarkan berbagai macam bakso, mulai dari bakso Tenis, Bakso kikil, Bakso Sayur, Bakso Urat sampai yang terasa aneh namanya bagi saya yaitu "Bakso Kabut". Memang di dua kabupaten ini Bakso merupakan makanan favorit, terkadang satu warung bakso saja menyediakan bakso yang bermacam-macam.
Bakso Kabut
Bakso Kabut
Mendengar namanya saja saya sudah berimajinasi, wah pasti bakso ini berada di dataran tinggi yang tempatnya berkabut, karena katanya tempat penjual bakso ini letaknya jauh dari perkotaan alias berada di pedesaan. Sesampainya di lokasi, ternyata tempatnya benar di pedesaan, bersebelahan dengan tanaman tembakau tetapi tidak berkabut, hehe.. Mungkin dinamakan berkabut karena baksonya tidak terlihat seperti  bakso-bakso pada umumnya, biasanya telornya ada didalam kemudian dilapisi dengan bakso, nah kalo bakso ini unik.. baksonya didalam kemudian dilapisi dengan telor, pantesan berkabut.. baksonya nggk kelihatan, jarak pandang terbatas, hahaha..
Bakso Kabut
Bakso Kabut
Warung ini berada di Jalan Rasamala, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Pemilik Warung ini yaitu Juhairiah (085258345601), kalau bingung dengan tempat ini coba nyalakan Google maps saya yakin pasti sudah ada jalur alternatif menuju kesana, jika tidak ada saya akan berbagi jalan yang mudah menuju ke lokasi, hehehe.. dari Alun-alun jember, ambil arah ke Bondowoso lurus saja terus sampai nanti melewati pertigaan kampus Unej, nah dari sana masih lurus lagi ke arah Bondowoso sampai ada pertigaan menyebrangi rel di kiri jalan dengan tulisan menuju objek wisata rembangan, setelah belok kiri dan menyebrang rel kereta nanti akan bertemu pertigaan ambil saja lurus, dan terus saja sampai nanti ketemu warung "Bakso Kabut" dikiri jalan bersebelahan dengan mesjid, hehe.. kalau masalah rasa, silahkan dicoba sendiri.. selamat menikmati bakso kabut, jangan lupa dan jangan malu untuk bertanya dijalan yaa, hehehe.. :)

»»  read more

Wednesday, 9 July 2014

Karimun Jawa, The Lost Treasure in Java

Pintu Gerbang Menuju Surganya Pulau Jawa
Sudah lama rasanya saya membuat planning ke Karimun Jawa, mungkin sekitar 2 sampai 3 tahun yang lalu dan baru tahun ini bisa menginjakkan kaki di pulau ini, dadakan lagi.. Sebulan sebelum keberangkatan peserta yang mau ikut lumayan banyak, tetapi menjelang keberangkatan hanya 4 orang yang berani melangkahkan kakinya, hahaha.. Perjalanan dari Jogja - Jepara kami tempuh dengan menggunakan travel, pagi dini hari kami sampai di pelabuhan jepara dan kebetulan bertemu dengan 3 traveler yang berasal dari Bandung, okelah.. nambah temen baru deh buat meminimalkan pengeluaran selama di Karimun Jawa, hahaha.. 4-5 jam perjalanan di laut itu sumpah membosankan, kerjaannya cuma duduk, liatin hape, ngemil, tidur begitu seterusnya selama di kapal, awal naek kapal sih hepi banget, dengan bangganya beli tiket trus foto-foto di jalanan menuju dermaga, mau masuk kapal foto-foto, di dalem kapal juga foto-foto.. barulah setelah 1 jam di atas kapal titik kebosanan mulai menjadi virus bagi kami, hahaha..
Setelah sampai di pelabuhan Karimun Jawa, kami langsung menuju homestay yang sudah dipesan sebelumnya, oh ya.. perjalanan kami kali ini tidak mengikuti agen travel, karena biaya yang dikeluarkan jika ikut paket tour lebih mahal, kalo engga percaya coba aja ke Karimun nggk usah ikut paket tour dijamin deh nggk nyesel.. Setelah mendapatkan homestay kami istirahat sejenak dan inilah yang saya tunggu-tunggu, Sunsetnya karimun jawa yang katanya aduh mamah sayangeeeeeeee..
Sunset di Karimun Jawa, Mataharinya Bulet Gitu Coba
Kalo Matahari Udah Tenggelam, Jangan Pulang Dulu, Ada yang Beginian :)
Selama di Karimun Jawa, kami mengunjungi beberapa pulau utama, seperti Pulau Menjangan Besar dimana kalian bisa berenang bersama ikan Hiu yang sudah bersahabat dengan manusia tentunya, ada juga Pulau Menjangan Kecil, disini kalian akan snorkling yang kemudian lanjut menuju Pulau Cemara Kecil.. nah ini dia tempat yang menurut saya asik banget pantainya, pasirnya putih airnya pun ada yang biru muda dan biru tua, widih ikan berenang aja keliatan dari jernihnya.. di sini juga kami makan siang, menunya ikan bakar ala salami broo, sambalnya juaraaaa.. liatin aja udah bisa ngebayangin pedasnya dan gurihnya ikan bakar, hahahaha.. Dari Pulau Cemara Kecil lanjut menuju Pantai Ujung Gelam, di pantai inilah menurut guide kami yang bernama "Mas Ngadi" sunsetnya bagus banget.. 
Selfie Jemaah di Pulau Cemara Kecil
Sunset di Pantai Ujung Gelam, Karimun Jawa
Untuk mengunjungi pulau pulau yang saya sebutkan diatas itu, membutuhkan waktu sehari penuh total ada 3 pulau yang dikunjungi dibagian barat, untuk dibagian timur ada 3 pulau juga yaitu Pulau Kecil, Pulau Tengah dan Spot Gosong. Di Pulau Kecil merupakan spot yang cocok untuk snorkling, ombaknya nggk separah pulau bagian timur, begitu juga dengan Pulau Tengah, disini kami lanjutkan dengan makan siang dan bakar ikan lagi broooo.. Oh ya, kami di Karimun Jawa 7 Hari 6 Malam terdampar kesana kesini akibat Kapal Ferry Siginjay nggk nyebrang dari Jepara ke Karimun Jawa.. tapi kami justru bahagia, bisa lebih lama lagi menikmati pulau Karimun Jawa dan Kemojan. Kali ini perjalanan darat dimulai, dengan sewa motor milik warga langsunglah kami menuju mangrove tracking dan juga bukit love, bukit yang katanya penduduk sekitar romantis buat menyaksikan sunset, acieeeeee.. hahahaha..
Mangrove Tracking, Salah Satu Tempat Menyaksikan Sunset
Homestay di Pantai Baracuda
Dermaga di Pulau Tengah




»»  read more

Tuesday, 8 July 2014

Jogja Fashion Week Carnaval, Megahnya Parade Budaya Indonesia

Peserta Jogja Fashion Week Carnaval 2014
Tahun kemaren 2013 pertama kalinya saya memotret event ini, sungguh meriah acaranya dengan tema "Semarak Khatulistiwa" kostum yang digunakan pun beranekaragam sehingga menarik penonton untuk turun kejalanan di sepanjang jalan Malioboro untuk berfoto. Seperti mencerminkan keindahan Alam dan Budaya yang dimiliki oleh Indonesia, foto-foto itu bisa dilihat di album Jogja Fashion Week Carnaval 2013.
Peserta Jogja Fashion Week Carnaval 2014
Peserta Jogja Fashion Week Carnaval 2014
Berbeda dengan tahun kemaren yang mengusung tema "Semarak Khatulistiwa", tahun ini Jogja Fashion Week Carnaval 2014 mengusung tema "Beruga Jenggala Nusantara" yang sudah menjadi event tahunan Yogyakarta. Event yang berlokasi di sepanjang jalan Malioboro ini dimulai dari jam 15.00 WIB hingga selesai dengan finish di Benteng Vredeburg. Ratusan pria dan wanita memakai kostum kebanggaannya yang berwarna warni bahkan anak anak juga ikut berpartisipasi dalam memeriahkan acara ini.
Peserta Jogja Fashion Week Carnaval 2014
Peserta Jogja Fashion Week Carnaval 2014
Peserta Jogja Fashion Week Carnaval 2014
Pembukaan Jogja Fashion Week Carvanal 2014 diawali dengan Marching Band Universitas Gadjah Mada dan diikuti oleh peserta lainnya dengan berpose sesuai alunan musik yang dibawakannya. Lagi-lagi penonton dibuat terpesona dengan turun ke jalanan walaupun untuk sekedar menyaksikan dan berfoto. Kemegahan peserta Jogja Fashion Week Carnaval ini mencerminkan indahnya ragam budaya nusantara yang harus kita lestarikan, untuk selebihnya dapat dilihat di album Jogja Fashion Week Carnaval 2014
Peserta Jogja Fashion Week Carnaval 2014
Peserta Jogja Fashion Week Carnaval 2014


»»  read more

Tari Bedhaya Luluh, simbol meminta restu sekaligus perlindungan.


Penampilan Tari Bedhaya Luluh
Sore itu, dihari jumat seperti biasa kami melakukan agenda rutin yaitu rapat mingguan KFBI (Komunitas Fotografi Budaya dan Pariwisata Indonesia) regional Yogyakarta di Dispar DIY jalan Malioboro. Sebelum acara rapat dimulai, kami biasanya berkumpul di angkringan depan Dispar walaupun sekedar mengobrol dan canda tawa. Beruntungnya dari obrolan itu ada yang memberikan informasi bahwa nanti malam di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) akan diadakan acara Tarian Bedhaya Luluh.. Sebenernya cukup kaget juga ada informasi dadakan seperti ini tanpa persiapan, tetapi entah kenapa saya sore itu membawa kamera waktu rapat, jadi ya nggk perlu bolak balik ke kos-kosan ambil kamera, hehee..
Penampilan Tari Bedhaya Luluh
Sejarahnya, Tari Bedhaya Luluh ini diciptakan oleh pimpinan YPBSM (Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa) dengan menggunakan komposisi 18 penari dalam satu kesatuan format bedayan. Konsep gerak tari bedhoyo yang muncul dalam tarian Bedhoyo Luluh adalah rakit tigo-tigo yang menyimbolkan hubungan antara manusia, alam dan tuhan. Pada Tari Bedhoyo Luluh ini terkandung pesan tentang tata susila, sesrawangun (berhubungan) juga religi antara lain disimbolkan dengan gerak awal dan akhiran menyembah sebagai simbol meminta restu sekaligus perlindungan.
Tari Bedhaya Luluh
Tari Bedhaya Luluh
Bagi saya pribadi, memotret pertunjukan seni tari merupakan salah satu cara untuk mencintai Bangsa Indonesia. Dengan kekayaan budayanya yang beraneka-ragam dan berasal dari berbagai macam suku di penjuru tanah air ini sudah sepantasnya untuk bangga dengan budaya kita sendiri. Mungkin salah satu tarian ini adalah satu dari beribu-ribu jenis tarian yang ada di Indonesia, dan semoga untuk kedepannya saya dapat melestarikan budaya bangsa Indonesia dengan hobi fotografi yang saya tekuni, hehehe.. :))
Tari Bedhaya Luluh
Tari Bedhaya Luluh








»»  read more